Cara Nabi SAW Menyikapi Kenaikan Harga dan Kompetisi Bisnis
Ustadz Abdurrahman Zahier
Pada saat bisnis ngerasa bahwa bisnis ini rugi gara-gara ada kompetitor, ada rival baru, gara-gara ada saingan baru, gara-gara harga naik, gara-gara A, gara-gara B, gara-gara C, gara-gara D, lupa bahwa Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ dahulu juga pernah ditanya soalan yang sama tentang masalah rezeki, masalah harga naik, kompetitor ada, itu bukan kita yang pertama kali ngalamin.
Jadi kalau kita mendapatkan ujian, sadarlah anda bukan orang pertama dengan ujian itu. Telah banyak orang-orang terdahulu dengan ujian yang sama pattern-nya dan polanya, hanya saja kita lupa baca sejarah. Hanya saja kita lupa bahwa kisah itu berulang.
Di zaman Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ pun para sahabat mengeluhkan harga barang pangan dan sandang yang naik: "Ya Rasulullah, قَدْ غَلَا السِّعْرُ، سَعِّرْ لَنَا. Ya Rasulullah, harga-harga pada naik, maka hargakanlah dengan penentuan harga Engkau."
Tapi Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ tidak langsung buat kebijakan menurunkan harga, Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ malah mengatakan: إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمُسَعِّرُ، الْقَابِضُ، الْبَاسِطُ، الرَّازِقُ. "Sesungguhnya Allah Ta'ala adalah Yang Maha Memberikan harga, Maha Memberikan rezeki, Menyempitkan, dan Melapangkan."
Pertanyaannya, keluhan ekonomi dijawabnya solusi akidah. Boleh jadi kesempitan yang kita rasakan dari sulitnya perekonomian atau owner-owner bisnis yang hari ini merasa, "Kok kayanya daya beli masyarakat berkurang hari-hari ini?", itu bukan masalah pada daya beli masyarakatnya, masalahnya pada akidah.
Karena para sahabat pun pernah merasakan cobaan yang sama. Harga pernah tinggi di zaman mereka, bahkan monopoli dahsyat pernah terjadi di zaman mereka yaitu monopoli orang Yahudi. Bayangkan, satu kota nggak ada air bersih kecuali punya Yahudi, itu monopoli luar biasa.